Redaksi | Pedoman Media Siber | Disclamair | Kontak
Dalih Kemanusiaan,
Dibawah Kepemimpinan AKBP Guntur MT,S.Ik, Penyidik Unit IV Istimewakan Pelaku Penganiayaan

Abdul
Senin, 18 Apr 2022 05:53 WIB | dilihat: 60425 kali
Foto: Ketika Lia Kristiani Halawa dibawa untuk dirawat karena pingsan akibat tindakan terduga pelaku inisial N.

PELALAWAN (ungkapriau.com) - Penganiayaan Sdri.Lia Kristiani Halawa pada Tanggal 23 Maret 2022 di Pasar Baru, Kecamatan Pangkalan Kerinci, pelakunya inisial N berhasil diamankan dan ditidurkan di dalam sel Polres Pelalawan.

Inisial N, berjenis kelamin Perempuan yang terjerat kasus tindak pidana penganiayaan, diamankan Tim PPA Reskrim Polres Pelalawan atas dasar laporan Ardin Setiaman Laoli (suami korban), pada tanggal 23 Maret 2022.

Tersangka inisial N diamankan oleh Tim PPA Reskrim Polres Pelalawan pada tanggal 6 April 2022 dan ditahan di Polres Pelalawan.

Paman korban, Yulianus Halawa, menilai ada hal aneh dalam kasus ini. Sebab, setelah ditangkap tersangka mendapat perlakukan istimewa dari Kapolres Pelalawan.

"Bahkan proses penangkapan saja terlihat berbeda, karena penyidik memakan waktu 15 hari baru melakukan penahanan," ucap Yulianus kepada wartawan, di Jl.Akasia, Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Senin (18/04/2022).

Lanjut Yulianus menyampaikan, setelah di tanggkap tanggal 6 April lalu, hanya berjarak 4 hari pelaku langsung di keluarkan.

"Tentunya ini layak disebut perlakukan istimewa. Pelaku inisial N dikeluarkan dengan dalil kemanusiaan, Penangguhan," ucapnya.

Hal itu pun menjadi tanda tanya bagi keluarga korban, termasuk Yulianus Halawa mengingat perkara seperti itu merupakan atensi Polri.

"Padahal, jika melihat kasus PPA ini, ini merupakan perkara atensi Polri. Akan tetapi, berbeda hal pelaku penganiayaan yang satu ini, diberlakukan istimewa oleh Kapolres Pelalawan," tandasnya.

Penyidik pembantu Unit IV PPA Polres Pelalawan, Aipda Maruli Pakpahan membenarkan kepada Yuliansus bahwa inisial N yang dilaporkan Ardi S Laoli, sudah ditangguhkan.

Kepada penyidik pembantu PPA Polres Pelalawan, beberapa waktu lalu Yulianus sempat bertanya siapa sosok penjamin inisial 'N' dalam proses penangguhan tersebut, namun hal itu dirahasiakan oleh penyidik.

"Saat saya tanyakan hal itu, Aipda M Pakpahan menjawab, penjamin tersangkanya adalah keluarga yang dapat di percaya penyidik. Ini urusan kami lah dan tidak harus tahu siapa penjaminnya," sebut Paman korban kepada wartawan sembari mengulang jawaban penyidik kepadanya.

Lanjut Yulianus menyampaikan, Aipda M Pakpahan menyebut bahwa kasus itu sudah dikirim SPDP di Kejaksaan Negeri Pelalawan. Jika misalnya ada perdamaian, itu hanya berupa lampiran dalam berkas perkara saja.

Sehubungan dengan keterangan Aipda Maruli Pakpahan tersebut, secara terpisah Yulianus Halawa juga mempertanyakan hal itu kepada Kapolres Pelalawan, AKBP Guntur MT,S.Ik, melalui WhatsApp, pada Selasa (12/04/2022) lalu.

Ketika itu Kapolres Pelalawan menyebutkan padanya bahwa masalah penangguhan tersangka N akan di cek terlebih dahulu.

"Jawab pak Kapolres saat itu, saya check dulu ya Bang, kita akan segera tindaklanjuti," ungkap Yulianus terkait jawaban AKBP Guntur MT,S.Ik, kepadanya.

Selain itu, Yulianus juga membeberkan bahwa sebelumnya, tepatnya pada hari Minggu (10/04/2022), kakak pelaku yang mengaku bernama Norma bersama anak pelaku mendatangi kediamannya untuk meminta perdamainan.

"Kakak pelaku bernama Norma dan anak pelaku datang untuk meminta damai. Kedatangan ibu Norma saat itu mewakili pihak keluarga untuk meminta berdamai dan bersedia membayar ganti rugi perobatan," katanya.

Ia menjelaskan bahwa kakak pelaku menawarkan dengan sendirinya uang ganti rugi perobatan korban.

"Tanpa kami minta, ibu Norma menawarkan uang senilai sepuluh juta rupiah (Rp.10.000.000-red) untuk ganti rugi perobatan Lia Kristiani Halawa," ungkap Yulianus.

Akan tetapi, pada hari Senin (11/04/2022), Norma membatalkan perdamaian tersebut dengan alasan adiknya (pelaku N) tidak meminta dirinya untuk berdamai kepada korban maupun keluarga korban.

"Esok harinya (11/04-red), ibu Norma nelpon saya dan membatalkan perdamaian yang ia minta kemarinnya (10/04-red). Alasannya, sang pelaku atau adiknya tidak ada meminta atau memohon untuk membantunya agar berdamai," ucap Yulianus menjelaskan pembatalan perdamain dari keluarga pelaku.

Awalnya pihak keluarga korban tampak biasa saja dan menerima pembatalan perdamaian itu mengingat pelaku telah diproses secara hukum dan telah ditahan, walaupun prosesnya cukup lama.

Namun yang begitu sangat mengejutkan, ternyata pada hari Senin tanggal 11 April itu, pelaku Penganiayaan inisial N tersebut ditangguhkan dan telah keluar atau bebas dari tahanan Polres Pelalawan. Adapun dalih penangguhan itu adalah 'Kemanusiaan'.

Sontak hal itu memicu tanda tanya bagi keluarga korban dan menimbulkan rasa kecewa atas tindakan tersebut.

Yulianus juga menyampaikan bahwa dirinya pernah di telpon oleh pihak penyidik PPA Polres Pelalawan dan di minta ke kantor Mapolres Pelalawan untuk membantu mediasi perdamaian.

"Dulu sebelum pelaku sempat ditahan, saya diminta datang untuk mediasi, tapi hal itu tak kunjung terrealisasi karena palaku tidak hadir. Dan upaya mediasi itu sempat dilakukan beberapa kali, tatep saja pelaku tidak datang. Hingga akhirnya ia ditahan," pungkas Yulianus. (Abdul)



Rekomendasi untuk Anda


Connect With Us





Copyright © 2013 PT. Ungkap Riau Media
All right reserved