Redaksi | Pedoman Media Siber | Disclamair | Kontak
Setelah Beberapa Permasalahan
Dugaan Kasus Proyek Cetak Sawah TA 2010-2013, Pejabat Terkait Masih Aman

Syamsul urc 26/
Jumat, 26 Des 2014 | dilihat: 1949 kali
Proyek cetak sawah tahun anggaran 2010 sampai 2013 menuai masalah, namun pejabat-pejabat terkait hingga saat ini belum berhadapan dengan hukum. Proyek cetak sawah di Desa Lubuk Keranji Kecamatan Bandar Petalangan tahun anggaran 2010 Rp 1 miliar misalnya. Proyek tersebut amburadul pelaksanaannya. Terbengkalai proyek pencetakan sawah baru diatas lahan seluas 110 hektar yang didanai APBD Pelalawan senilai Rp1 milyar lebih itu karena tidak berhasil diselesaikan oleh rekanan kontraktor. Selanjutnya proyek cetak sawah Desa Teluk Bakau Kecamatan Kuala Kampar tahun anggaran 2013 masyarakat setempat memprotes hasil pengerjaan proyek itu. Pasalnya, hingga awal tahun 2014 ini tidak kunjung selesai. Proyek cetak sawah yang berlokasi di dusun 2 dengan luas lahan 100 hektar, yang terdiri dari 100 KK, setiap KK nya memiliki lahan satu hektar. Untuk proyek cetak sawah ini anggarannya Rp 10 juta per satu hektar, artinya anggaran seluruh proyek mencapai Rp 1 Miliar untuk 100 hektar. Yang melaksanakan pengerjaannya bernama Doni, warga Tanjung Balai Karimun Provinsi Kepulauan Riau, namun tidak diketahui nama perusahaannya. Kontraktor pelaksana hanya sanggup mengerjakan 60 hektar dan telah menjadi sawah serta ditanami, untuk sementara 40 hektar lagi masih menjadi semak belukar tanpa tersentuh sedikitpun. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pelalawan, Syahfalepi membenarkan adanya persoalan cetak sawah di Desa Teluk Bakau itu. Namun ia menampik jika cetak sawah itu proyek Pemkab Pelalawan, melainkan dana dari APBN tahun 2013. Demikian juga kasus gagalnya cetak sawah baru di Desa Tambak Kecamatan Langgam. Proyek senilai Rp400 juta tahun 2010 itu terjadi banyak penyimpangan. Dilapangan tidak dijumpai adanya cetak sawah tersebut, yang ada hanya tanaman kayu akasia. Proyek yang dikerjakan oleh CV. Dimas Andalas itu, menurut Kepala Dinas Pertanian Pelalawan, Atmonadi, dari dana sebesar Rp 400 juta, pihaknya sudah membayarkan ke kontraktor sebesar Rp 376 juta. Dan Atmonadi akan meminta pertanggungjawaban kontraktor soal cetak sawah di Desa Tambak. Atas permasalahan ini Atmonadi beberapa kali dipanggil oleh Tipidkor Polres Pelalawan. Kasus yang satu ini juga sampai sekarang masih adem tanpa ada tindak lanjutnya. Demikian pula proyek cetak sawah Desa Sungai Solok Kecamatan Kuala Kampar yang dibiayai dari APBN tahun anggaran 2011. Para pekerja menuntut upah, sebab upahnya tidak sepenuhnya diberikan oleh ketua kelpmpok tani. Pekerja menuding bahwa upah tersebut telah digelapkan oleh ketua-ketua kelompok tani yang melibatkan oknum pegawai Dinas Pertanian. Proyek cetak sawah seluas 180 hektar senilai Rp 1 milyar lebih bersumber dana APBN itu, syarat dengan kepentingan pribadi. Cetak sawah bantuan langsung masyarakat ini, dikerjakan oleh kelompok tani sendiri melalui Rencana Usaha Kelompok (RUK), dan pencairan dananya langsung dikirim ke rekening kelompok tani. Sementara dinas hanya melakukan pengawasan. Pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Pelalawan pada waktu itu sangat lemah, dan menyebabkan berbagai permasalahan dalam pelaksanannya, serta mengisyaratkan bahwa adanya peramainan kotor oleh pihak-pihak terkait.(TIM)

Rekomendasi untuk Anda


Connect With Us





Copyright © 2013 PT. Ungkap Riau Media
All right reserved